Partisipasi sosial dalam segala hal bagi bangsa Indonesia adalah
usaha dalam pelaksanaan membangun demokrasi.Ini merupakan salah satu
bentuk proses penting mengangkat kembali kegagalan demokrasi dalam
negeri.Aktualisasi kegagalan demokrasi Indonesia saat ini sedang efektif
akibat menipisnya kesadaran politik yang tendensi,seakan nilai
primodialisme sedang diproklamasikan secara intern dengan praktek
persaingan poitik bertopeng demokrasi. Adegan gelap yang terus berjalan
dan menjalar ini begitu efisien yang menjadikan masyarakat sebagai
panggung adu domba yang berujung tumbal politik. Hal Ini memebodohkan
masyarakatakan arti sebuah kebebasan berargumen berlandas etika hidup
berbangsa.Namun tidak segampang pergerakan teetap bertahan tapi tiba
saatnya dimana hitam menjadi transparan.Kesadaran kolektif dalam
masyarakat diuji dengan jelas yang terungkap jelas dalam film Indonesia
tahun 2017 berjudul''Jakarta Undercover''.Mengapa harus Jakarta
undercover?
http://bit.ly/JakartaUndercover
Pertanyaan
ini pernah menghantui pikirianku beberapa hari yang lalu.Karena dengan
film ini dapat mengklaim dan penuh kritikan yang sangat mendalam
terhadap bangsa Indonesia.Jawaban yang bisa temukan bahwa hidup dalam
perkembangan IPTEK semakin hari semakin menuntut kita.Manusia lupa
mendefenisikan dirinya yang sebenarnya sebagai bangsa yang
berdemokri.Uang dan kekuasaan sebagai tolak ukur pengabdian kepada
masyarakat dan berbangsa.Terciptanya actor-akctor penting masyarakat
yang bergengsi menggagaskan hidupnya dengan praktek over
ackting.Berkaitan dengan praktek over akcting ini dapat menjawab
pertanyaan diatas bahwa film Jakarta undercover menempati posisi yang
membuka topeng-topeng kemanusiawian manusia.Kepolosan seoarang penulis
bernama Pras dalam film Jakarta Undercover melalui sebuah tulisanannya
berjudul Jakarta undercover membuka mata masyarakat bahwa itu nyata.
Semua berbaur duniawi dengan kelemahan masing-masing saling
membutuhkan.Sebuah Negara merdeka yang berkembang mengembangkan
kebebasan berpolitik tanpa menilai kehidupan belandaskan dasar
Negara.Cita-cita bangsa yang relevan mengalami kegagalan yang
berdaulat.Maraknya Politik makan teman melanda masyarakat akibat
oknum-oknum atasan pemerintah.
Sebagai wartawan atau penulis sering dipisahkan dari kesangsian demokrasi karena dinilai sebagai pintu keluar bagi masyarakat.Memposisikan kebenaran secara tepat menjadi cerminan wartawan atau penulis membuka jalan keluar bagi masyarakat demi membangun kembali demokrasi yang berdaulat.Semua substansi elemen pemerintahan menampilkan formalitas kedudukannya yang mengakibatkan masyarakat merasa tertekan.Inilah bukti kepolosan dan transparannya eksistensi wartawan sebagai penulis profesional yang mencatat catatan hitam pemerintahan dan realitas hidup sosial.Mampu menggemparkan dunia dalam satu hari karena tirai hitam dibuka dalam bentuk tulisan merupakan fakta reformasi menciptakan kesadaran bangsa.
Saluran Aspirasi Masyarakat
Berdasarkan tulisan-tulisan diatas ,maka secara tidak langsung keberadaan seorang wartawan adalah sangat membahayakan oknum-oknum terbukti kelalainnya dalam memegang perananya masing-masing.Lebih dari wartawan menempatkan kebebasan bagi masyarakat untuk beraspirasi karena hanya lewat mereka lah,Segala unek-unek dan argument masyarakat terealisasi.Segalah beban dan ketidakadilan yang diwarnai persaingan politik tercurah kepada wartawan.wartawan atau penulis memposiskan diri sebagai pendengar.Sehingga benar apa yang dilansirkan dari kompas.com(02/07/2014),demokrasi adalah mendengar suara rakyat," ungkap Jokowi di awal debat Menjadi pertanyaan ''di mana peran pemerintahan sebagai penyambung lidah masyarakat yang selalu dikatakan bahwa sebagai kekuatan demokrasi yang berdaulat?''.Pembaca tentu merasa bingung dengan pertanyaan ini yang mana seakan kelompok tertentu diintimidasi.Penulis tidak mempersalahkan siapa dan membenarkan siapa.Penulis hanya menyadarkan arti sebuah demokrasi yang gagal adalah perjuangan kita bersama.Dan sebagai wartawan atau penulis teruslah berjuang membangun mekanisme demokrasi yang telah digagalkan oleh golongan-golongan tertentu demi politik merebut kekuasaan atau kehidupan sosial yang semu.Masyarakat akan terus membutuhkan penulis sebagai saluran aspirasi masyarakat berbentuk kotak suara-suara kritis yang lama terkontradiksi dalam berdaulat walaupun profesi penulis secara tidak langsung berinvestasi disetiap kotak suara tersebut.Masyarakat tidak membedakan berapa jumlah hasil investasi penulis namun mereka menilai proses penulis menulis aspirasinya yang mana bukan manipulasi demi kepentingan oknum-oknum yang menggagalkan demokrasi berdaulat.Karena dengan cara ini masa kritis masyarakat bisa diperhatikan secara khusus dan roda pemerintahan berjalan dengan seimbang sesuai hukum dan berdaulat.
http://bit.ly/JakartaUndercoverSebagai wartawan atau penulis sering dipisahkan dari kesangsian demokrasi karena dinilai sebagai pintu keluar bagi masyarakat.Memposisikan kebenaran secara tepat menjadi cerminan wartawan atau penulis membuka jalan keluar bagi masyarakat demi membangun kembali demokrasi yang berdaulat.Semua substansi elemen pemerintahan menampilkan formalitas kedudukannya yang mengakibatkan masyarakat merasa tertekan.Inilah bukti kepolosan dan transparannya eksistensi wartawan sebagai penulis profesional yang mencatat catatan hitam pemerintahan dan realitas hidup sosial.Mampu menggemparkan dunia dalam satu hari karena tirai hitam dibuka dalam bentuk tulisan merupakan fakta reformasi menciptakan kesadaran bangsa.
Saluran Aspirasi Masyarakat
Berdasarkan tulisan-tulisan diatas ,maka secara tidak langsung keberadaan seorang wartawan adalah sangat membahayakan oknum-oknum terbukti kelalainnya dalam memegang perananya masing-masing.Lebih dari wartawan menempatkan kebebasan bagi masyarakat untuk beraspirasi karena hanya lewat mereka lah,Segala unek-unek dan argument masyarakat terealisasi.Segalah beban dan ketidakadilan yang diwarnai persaingan politik tercurah kepada wartawan.wartawan atau penulis memposiskan diri sebagai pendengar.Sehingga benar apa yang dilansirkan dari kompas.com(02/07/2014),demokrasi adalah mendengar suara rakyat," ungkap Jokowi di awal debat Menjadi pertanyaan ''di mana peran pemerintahan sebagai penyambung lidah masyarakat yang selalu dikatakan bahwa sebagai kekuatan demokrasi yang berdaulat?''.Pembaca tentu merasa bingung dengan pertanyaan ini yang mana seakan kelompok tertentu diintimidasi.Penulis tidak mempersalahkan siapa dan membenarkan siapa.Penulis hanya menyadarkan arti sebuah demokrasi yang gagal adalah perjuangan kita bersama.Dan sebagai wartawan atau penulis teruslah berjuang membangun mekanisme demokrasi yang telah digagalkan oleh golongan-golongan tertentu demi politik merebut kekuasaan atau kehidupan sosial yang semu.Masyarakat akan terus membutuhkan penulis sebagai saluran aspirasi masyarakat berbentuk kotak suara-suara kritis yang lama terkontradiksi dalam berdaulat walaupun profesi penulis secara tidak langsung berinvestasi disetiap kotak suara tersebut.Masyarakat tidak membedakan berapa jumlah hasil investasi penulis namun mereka menilai proses penulis menulis aspirasinya yang mana bukan manipulasi demi kepentingan oknum-oknum yang menggagalkan demokrasi berdaulat.Karena dengan cara ini masa kritis masyarakat bisa diperhatikan secara khusus dan roda pemerintahan berjalan dengan seimbang sesuai hukum dan berdaulat.

0 komentar:
Posting Komentar